Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Halaman Depan
Sang Ratu Ingin Pulang | Cetak |  E-mail

Perjuangan saya belum berhenti. Walaupun kereta reot ini sarat dengan kaleng rombeng di belakangnya, akan tetap berjalan seiring dalam perjalanan.Saya adalah bagian daripada rakyat.

 I tulah ungkapan yang diutarakan Megawati Soekarnoputri dalam bukunya, Tidak Ada Jalan Pintas, Perjalanan Panjang Seorang Perempuan. Kalimat tersebut seakan menegaskan bahwa Mega sebagai tokoh nasional belum tuntas membawa kesejahteraan kepada rakyat. Meski jalan panjang berkelikil dan penuh pengorbanan, bangsa ini harus bangkit, begitu Mega berharap. Tetapi, ungkapan itu mengesankan putri mantan Presiden pertama RI itu berambisi untuk kembali menduduki singasana RI-1 pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 mendatang.

Apalagi, mantan presiden RI ke-5 itu secara tegas telah menyatakan dirinya maju sebagai capres 2009 lewat rakornas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), September lalu. “Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, saya, Megawati Soekarnoputri, bersedia dicalonkan sebagai presiden dari PDIP,” tegas Mega di hadapan sekitar 16.000 kader PDIP saat penutupan Rakornas. Tak pelak, pernyataan tersebut langsung disambut gegap gempita peserta Rakornas. Lagu Maju Tak Gentar pun membahana mengiringi pernyataan Mega. Ribuan orang berpakaian merah diselingi warna hitam berdiri dan bertepuk tangan. Tidak jarang dari mereka berteriak histeris, sebagai bentuk kepuasan dari sebuah penantian. Ya, sudah sejak lama mereka menanti jawaban dari seorang Megawati Soekarnoputri.

Kesediaan Ketua Umum DPP PDIP itu pun layaknya oase di tengah gurun bagi para kader partai berlambang banteng moncong putih itu. Maklum, sejak Rakernas I PDIP di Bali beberapa waktu lalu, Mega belum mau mengeluarkan pernyataan kesiapan dicalonkan menjadi capres. Usai menyatakan kesediaannya menjadi capres, Megawati meminta seluruh struktur partai baik di eksekutif, legislatif, dan pengurus mulai dari DPP sampai ranting, harus mulai bekerja keras. Dia mengingatkan bahwa para rivalnya yang juga akan bersaing di pilpres 2009 nanti pasti akan melakukan kalkulasi dan menyiapkan strategi setelah mengetahui dirinya bersedia maju kembali.

Megawati tampaknya sangat percaya diri (pede) untuk kembali bertarung pada pilpres 2009. Padahal, pengalaman pilpres 2004 masih menjadi sebuah “catatan buruk”yang menjadi sebuah pelajaran berharga bagi mantan Presiden Indonesia ke-5 itu. Bagaimana tidak, Mega yang saat itu menggandeng tokoh Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi sebagai cawapres, sangat pede. Apalagi mendapat dukungan sejumlah parpol lewat Koalisi Kebangsaan yang dimotori Akbar Tanjung.

Namun, kepercayaan diri itu tidak membuahkan hasil. Di luar dugaan, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menggandeng tokoh Golkar Jusuf Kalla (JK) justru berhasil “mempecundangi” Megawati.Lantas,apakah kondisi serupa akan berulang pada Pemilu 2009? Memang, perhitungan politik terakhir menunjukkan,calon presiden yang dinilai kuat untuk bersitatapan dengan SBY adalah Megawati. Sementara, calon-calon lain seperti Wiranto, Amien Rais, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla (JK) dan lainnya dianggap belum mampu menandingi dua calon kuat di atas.

“Sekarang ini dalam sejarah politik modern dan demokrasi seperti ini kita harus melakukan pengukuran. Kita selalu mengadakan riset dan polling yang memang membuktikan hanya dua tokoh yang akan bersaing keras dalam pemilu 2009,” ungkap Sekretaris Jenderal DPP PDIP Pramono Anung kepada SINDO. Pilpres 2009,menjadi momentum bagi Mega untuk kembali mengisi kursi istana. Istilahnya, peluang Mega menjadi presiden pada 2009 masih terbuka atau tidak sama sekali. Inilah kesempatan bagi ”Sang Ratu” untuk pulang ke istana. Jika pada 2009 PDIP gagal mengusung Mega ke kursi presiden, maka untuk selanjutnya, partai berlambang banteng moncong putih itu harus melakukan kaderisasi mencari pemimpin lain. (sunu hastoro/thomas pulungan/ faizin aslam/yani

 

Diambil dari: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/sang-ratu-ingin-pulang.html

 

 
 

A R O P I

" AROPI ( Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia ) merupakan sebuah asosiasi dari ratusan individu yang tertarik dalam memperkenalkan dan mengembangkan riset opini publik di Indonesia. Sebagai sebuah organisasi profesi, AROPI bersifat netral dan tidak berafiliasi dengan organisasi politik apapun.  Anggota AROPI berasal dari berbagai macam latar belakang, seperti dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, mahasiswa, politisi,  birokrat dan sebagainya.  AROPI tidak membeda-bedakan  anggota berdasarkan agama,  suku bangsa, jenis kelamin atau afiliasi politiknya "

Keanggotaan

...AROPI merupakan organisasi profesi yang terbuka untuk siapa saja yang tertarik dengan riset opini publik, Keanggotaan AROPI bersifat individual, tidak mewakili lembaga atau organisasi. Dengan menjadi anggota AROPI, Anda akan menjadi bagian dari sebuah jaringan yang luas di bidang riset opini publik....

Pelatihan

...Menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelatihan terutama yang berkenaan dengan bidang riset...

Beasiswa

...Mensponsori pemberian beasiswa terhadap individu -individu yang memiliki kepedulian tinggi dan prestasi yang mengagumkan dalam dunia riset dan survei...

Survey Opini Publik

....Survei opini publik merupakan instrumen yang penting sekali bagi demokrasi. Salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah perkembangan budaya riset atau surveinya yang sedemikian pesat. Jepang....

Konsultan Ahli

...lembaga survei sekaligus juga merangkap sebagai konsultan pemenangan kandidat,dengan menerapkan prinsip-prinsip metodologi ilmiah dan independensi...
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset