| Safari Mega Vs Silaturahim Kalla | | Cetak | |
|
Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri beberapa hari terakhir ini (Kompas, 21/11) melakukan safari politik ke beberapa kota basis PDI-P di Jawa. Kegiatan ini—apa pun bungkusnya, seperti dialog dengan buruh, petani, pedagang, dan nelayan—pasti terkait Megawati sebagai kandidat Pilpres 2009. Safari politik Megawati itu tidak beda dengan silaturahim politik Jusuf Kalla ke sepuluh provinsi di Sumatera dan Sulawesi pasca-Lebaran lalu. Baju sudah disingsingkan, genderang sayup-sayup mulai terdengar. Dua mesin politik Melihat peta politik 1999 dan 2004, ada dua partai pemenang pemilu yang memiliki mesin politik paling besar, yakni Golkar dan PDI-P. Dalam Pemilu 1999, PDI-P unggul atas Golkar, meraih 154 kursi DPR, sementara pada Pemilu 2004, Golkar giliran unggul atas PDI-P dengan 128 kursi DPR. Kedua partai memiliki struktur kepengurusan di DPP, DPD, hingga DPC, dari Sabang sampai Merauke. Karena itu, baik Megawati maupun Kalla punya posisi strategis selaku pimimpin partai terbesar di Republik Indonesia. Selain itu, andaikata tujuh partai yang lolos threshold dalam Pemilu 2004, Golkar, PDI-P, PPP, Partai Demokrat, PKB, PKS, dan PAN, mengajukan kandidat presiden sendiri tanpa koalisi dengan partai lain, sekali lagi posisi Kalla dan Megawati pasti diperhitungkan kandidat presiden partai lain. Ini tidak lepas dari mesin politik yang sudah mapan dan dimiliki kedua partai besar itu. Dalam Pemilihan Presiden 2004, mesin politik kedua partai ini tidak berfungsi karena pasangan Mega-Hasyim yang didukung PDI-P, Partai Golkar, dan PPP bertekuk lutut di hadapan SBY-Kalla, kandidat Partai Demokrat, PKPI, PBB, dan PKS. Namun, untuk Pilpres 2009, sekecil apa pun peran mesin politik bisa menentukan seseorang melenggang menuju singgasana presiden. Tentu, tidak bisa lepas dari citra kandidat, moralitas, keberanian, dan kemampuan yang akan dinilai rakyat secara kritis. Dengan demikian, baik Mega maupun Kalla sama-sama punya mesin politik yang berpotensi memenangi Pilpres 2009. Di antara kandidat Di luar persoalan itu, kedua pemimpin partai terbesar itu memiliki pribadi berbeda. Kalla memiliki karakter lebih terbuka, egaliter, dan ceplas-ceplos dibandingkan dengan Megawati yang pendiam. Kalla seorang pedagang sebelum terjun ke dunia politik. Gaya politiknya khas Bugis, karakter saudagarnya kental, lugas, tidak bertele-tele. Adapun Megawati sebagai wanita dan ibu rumah tangga lebih lembut, pendiam, dan terkesan ningrat karena anak Proklamator Bung Karno yang sejak kecil akrab dengan Istana. Selain itu, Kalla juga terkesan mudah akrab. Karakter ini bisa menguntungkan posisinya sebagai Ketua Umum Golkar, sementara Megawati dalam pergaulan lebih terbatas meski mengklaim simbol pemimpin wong cilik. Dalam silaturahim politik pasca-Lebaran lalu, Kalla simpatik dan terkesan dirinya mampu merangkul banyak tokoh, termasuk rival politiknya. Nilai kunjungan Kalla positif bagi dirinya. Ia mau "merendahkan diri" mengunjungi Gubernur DKI Fauzi Bowo, sebagai warga Menteng. Kalla juga menyambangi Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Megawati, Gus Dur, BJ Habibie, dan Hamzah Haz. Ia juga mengunjungi Try Sutrisno dan Soeharto. Ini energi positif sekaligus investasi Pilpres 2009. Sebuah pertimbangan khas pedagang, berorientasi pragmatis demi keuntungan. Hal menarik lain dari langkah Kalla, dia tanpa banyak pertimbangan menemui Megawati dan Akbar Tandjung. Mega adalah rival politik yang dikalahkan dalam Pilpres 2004. Sampai hari ini, Mega belum pernah bertemu Yudhoyono, seolah ada dendam. Sementara itu Akbar, mantan Ketua Umum Golkar yang digantinya, belakangan mengkritik kepemimpinan Kalla bergaya saudagar dan dinilai kurang percaya diri dalam Pilpres 2009. Meski demikian, Akbar pernah dikalahkan Kalla dalam Munas Golkar di Bali, Desember 2004. Di luar rivalitas Megawati vs Kalla, persaingan antarelite politik menjelang Pilpres 2009 masih panas dan seru. Kini sudah menunggu kandidat lain seperti Sutiyoso, Wiranto, Yudhoyono, Sultan HB X, Gus Dur, dan kandidat yang belum disebut dalam khazanah politik nasional. Termasuk kaum muda, kini merangsek menuntut regenerasi bagi mereka. Mereka bukan pesaing lemah, tetapi bisa menjadi pesaing tangguh bagi Mega atau Kalla. Mega dan Kalla sebagai kandidat Presiden 2009 punya konstituen captive, representasi PDI-P dan Golkar. Terlepas dari semua itu, Megawati yang dicalonkan PDI-P dan Kalla yang akan dicalonkan Golkar harus bertarung meraih kursi presiden. Hipotetis yang lain, andai kata Kalla mau memberi kesempatan kepada Sultan HB X sebagai kandidat presiden dari Partai Golkar, Mega dan SBY termasuk Wiranto akan kedodoran. Masalahnya, maukah Kalla memberi kesempatan kepada Sultan HB X sebagai capres dari Partai Golkar? Secara hipotetis, Golkar dan PDI-P punya peluang sama besar. Namun jika Kalla ngotot maju, Mega bisa melenggang. Sebaliknya, jika Sultan HB X maju, Mega bisa kewalahan. Dari perspektif itu, situasi mencemaskan Pilpres 2009 akan menguat bila Yudhoyono memenangi kembali kursi RI I. FS Swantoro Peneliti pada Soegeng Sarjadi Syndicate, Jakarta |
| Nasional |
| Internasional |
| Berita |
| Admin |
| Lembaga Survei |
| Buku |
| Gallery |
| Video |
| Statistik |
| Penerima Beasiswa |
| Hasil Survei |
| Quick Count |