Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Halaman Depan arrow Berita arrow Artikel arrow Saatnya Lembaga Survei Diawasi
Saatnya Lembaga Survei Diawasi | Cetak |  E-mail

SUDAH diduga sejak awal, iklan layanan masyarakat di Media Indonesia 28 Agustus 2007 berjudul “Saatnya Lembaga Survei Diawasi!!” pasti akan mengundang polemik. Khususnya di komunitas lembaga survei, terjadi pro-kontra. Pihak yang merasa tidak teruntungkan oleh pemuatan iklan tersebut bereaksi keras. Sedangkan pihak yang merasa “tersanjung” memberikan respons positif.

Di kalangan publik luas pun tanggapan terhadap iklan dan substansi iklan tersebut beraneka warna. Ada yang menuding si pemasang iklan sekedar cari popularitas dengan membuat sensasi. Ada yang menuduh si pemasang iklan sengaja dibayar mahal untuk mempromosikan lembaga yang paling teruntungkan oleh hadirnya iklan itu. Ada yang menyangka iklan itu memang di-design untuk mendeskreditkan lembaga tertentu. Tapi banyak juga yang memberikan acungan jempol karena sebuah tradisi baru dalam dunia survei telah lahir melalui iklan tersebut.

Tradisi Baru

Sebuah tradisi baru biasanya tidak mudah diterima publik. Tahun 2004 ketika Lembaga Survei Indonesia (LSI) membuat survei tentang partai politik yang kemungkinan memenangkan pemilu legislatif, banyak orang kebakaran jenggot. Mereka menuduh LSI telah dibayar oleh partai politik tertentu untuk menggiring opini publik agar memilih partai tersebut.

Tatkala LSI menayangkan quick count hasil pemilihan presiden (Pilpres) 2004 banyak orang juga marah besar. Mereka memprotes quick count LSI 

SAATNYA lembaga survei diawasi!! Demikian bunyi judul iklan layanan masyarakat di Media Indonesia, 28 Agustus 2007. Iklan itu merupakan cerita bersambung dari diskusi publik yang diadakan Lembaga Survei Nasional (LSN) dan Forum Jurnalis Jakarta (FJJ) tanggal 23 Agustus 2007 bertajuk “Mengontrol Lembaga Survei?”.

Iklan layanan masyarakat dan publikasi dari diskusi publik tersebut ternyata mendapatkan respon beraneka warna dari masyarakat, khususnya dari komunitas lembaga survei. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Ada yang tersanjung, ada juga yang tersinggung. 

Apakah memang sudah saatnya lembaga survei diawasi?

Oleh: Umar S. Bakry

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional

 
 

A R O P I

" AROPI ( Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia ) merupakan sebuah asosiasi dari ratusan individu yang tertarik dalam memperkenalkan dan mengembangkan riset opini publik di Indonesia. Sebagai sebuah organisasi profesi, AROPI bersifat netral dan tidak berafiliasi dengan organisasi politik apapun.  Anggota AROPI berasal dari berbagai macam latar belakang, seperti dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, mahasiswa, politisi,  birokrat dan sebagainya.  AROPI tidak membeda-bedakan  anggota berdasarkan agama,  suku bangsa, jenis kelamin atau afiliasi politiknya "

Keanggotaan

...AROPI merupakan organisasi profesi yang terbuka untuk siapa saja yang tertarik dengan riset opini publik, Keanggotaan AROPI bersifat individual, tidak mewakili lembaga atau organisasi. Dengan menjadi anggota AROPI, Anda akan menjadi bagian dari sebuah jaringan yang luas di bidang riset opini publik....

Pelatihan

...Menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelatihan terutama yang berkenaan dengan bidang riset...

Beasiswa

...Mensponsori pemberian beasiswa terhadap individu -individu yang memiliki kepedulian tinggi dan prestasi yang mengagumkan dalam dunia riset dan survei...

Survey Opini Publik

....Survei opini publik merupakan instrumen yang penting sekali bagi demokrasi. Salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah perkembangan budaya riset atau surveinya yang sedemikian pesat. Jepang....

Konsultan Ahli

...lembaga survei sekaligus juga merangkap sebagai konsultan pemenangan kandidat,dengan menerapkan prinsip-prinsip metodologi ilmiah dan independensi...
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset