| MESKI pelaksanaannya masih sekitar dua tahun lagi, tapi gonjang- ganjing pelaksanaan Pemilihan Presiden 2009 sudah mulai terasa saat ini. Para kandidat yang ingin mencalonkan diri dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut sudah mulai bercokol, baik yang memiliki partai politik maupun yang tidak. Para kandidat tersebut ada yang sudah terangterangan akan mencalonkan diri, ada yang diam-diam dan malu-malu, dan ada pula yang masih menunggu situasi. Gonjang-ganjing pencalonan presiden itu dimulai saat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri menyatakan kesanggupannya untuk dicalonkan pada forum Rakernas akhir September lalu. Bekas Presiden RI ke- 5 ini yang akan diusung partai berlambang banteng moncong berwarna putih tersebut pada Pilpres 2009 mendatang. Kesanggupan Megawati ini kemudian mendapatkan respon dari Sutiyoso, yang pada 7 Oktober lalu sudah lepas dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Meski belum memiliki kendaraan partai politik, pria asal Gunung Pati Semarang ini ingin bermain di lapangan yang lebih luas setelah hanya bermain di Jakarta. Ia sudah mengkampanyekan semboyan “Bang Yos for President”. Wacana pencalonan presiden 2009 ini semakin mendapatkan tempat pemberitaan media massa karena Wakil Presiden Jusuf Kalla juga ikut mengeluarkan pernyataan terkait dengan pencalonannya. Komentar yang keluar dari mulut Kalla pun cukup menarik. Dia mengatakan bisa saja dirinya akan berpisah dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan pasangannya pada Pilpres 2004 lalu. Kontan saja, SBY yang kini menjabat sebagai Presiden dan masih berpasangan dengan Kalla juga ikut-ikutan berkomentar. Komentar SBY ini tentu saja membuat suhu politik di pemerintahan semakin memanas. Dengan bahasa diplomatis, Presiden dari militer ini menyatakan belum memutuskan apakah akan mencalonkan lagi atau tidak. “Kalau memang baik ya mencalankan, tapi kalau tidak baik ya tidak mencalonkan,” begitu kira-kira pernyataan diplomatis yang keluar dari mulut SBY. Pernyataan SBY ini memang mengindikasikan bahwa dirinya kemungkinan besar sudah tidak berpasangan lagi dengan Kalla. Tanda-tanda keinginan Kalla meninggalkan SBY pada Pilpres 2009 memang sangat kentara. Jusuf Kalla tampaknya tidak bisa menyembunyikan keinginnanya untuk maju dalam Pilpres mendatang dengan mengincar posisi RI-1. Bahkan, politikus yang lahir dari dunia pengusaha ini sudah menyatakan bahwa partai Golkar akan menghapus sistem konvensi untuk menjaring kandidat yang akan diusung partainya dalam Pilpres 2009. Kalla beralasan, konvensi yang dilaksanakan Partai Golkar pada 2004 lalu ternyata terbukti gagal untuk menjaring calon yang dikehendaki rakyat. Rencana Kalla ini kemudian ditafsiri sebagai salah satu strategi agar langkahnya menuju kandidat presiden yang diusung partainya bisa mulus. Karena tanpa konvensi akan meminimalisir kandidat dari luar partai yang ingin maju menggunakan kendaraan Partai Golkar yang mengincar R-1. Kalla yang tidak mau lagi berpasangan dengan SBY memang bisa dimaklumi. Karena Partai Golkar merupakan partai pemenang pada Pemilu 2004 lalu, sedangkan partainya SBY, Partai Demokrat, hanya partai kecil dengan perolehan suara urutan ke tujuh. Sebagai partai besar tentunya Kalla tidak akan mau jika harus berpasangan dengan partai kecil yang dimiliki oleh SBY dengan komposis seperti pada Pilpres 2004. Bagi partai Golkar tidak akan mau jika pasangan ini akan tetap dilanjutkan pada Pemilu 2009 dengan komposisi yang sama. Di mana sang ketua umumnya Kalla hanya diposisikan sebagai calon wakil presiden. Sedangkan Partai Demokrat yang hanya peraih suara ke tujuh dalam pemilu 2004 lalu mendapatkan posisi presiden. Bagi Partai Golkar tentu ini tidaklah adil. Peraih suara terbesar haruslah mendapatkan posisi yang lebih atas dibandingkan dengan partai yang mendapatkan suara lebih sedikit. Dengan kata lain, peraih suara terbanyak kadernya harus dicalonkan sebagai presiden dan peraih suara yang sedikit harus dikasih jabatan wakil presiden. Jika hitung-hitungan perolehan suara ini digunakan maka SBY juga tidak akan mau untuk posisi wakil presiden. Dalam logika politik serta beban psikologis maka hal itu tidak mungkin bisa dilakukan, baik bagi Kalla sendiri maupun SBY. Rasanya tidak mungkin jika pada Pilpres 2009 nanti Kalla akan menjadi calon presiden sementara SBY diposisikan sebagai calon wakil presiden untuk mendampingi Kalla. Bagi SBY dan Partai Demokrat, sekarang sudah menduduki jabatan sebagai presiden maka periode mendatang harus menduduki posisi yang sama, atau kalau ada posisi yang lebih tinggi maka posisi itu yang akan diincar. Keinginan Kalla untuk maju sendiri menjadi calon presiden dengan meninggalkan SBY memang bisa dimaklumi. Selain karena Partai Golkar sebagai pemenang pemilu tahun lalu juga karena partai ini memiliki akar yang kuat dengan pengalaman 30 tahun lebih. Kader-kadernya juga banyak yang sudah menduduki posisi strategis, baik di pemerintahan pusat maupun daerah. Bandingkan dengan Partai Demokrat, yang mengusung SBY. Partai ini bisa besar hanya gara-gara popularitas SBY, yang sebelum pemilu 2004 dikenal sebagai sosok yang santun, gagah, dan lemah lembut. Pada Pemilu 2009 mendatang perolehan suara Partai Demokrat juga belum tentu sama atau bahkan lebih besar dari Pemilu 2004. Dari berbagai fakta itu maka kita bisa menebak bahwa pasangan SBYJK pada Pilpres 2009 nanti tidak akan berduet lagi. Bahkan, meski setelah Pilpres 2004 ada yang mengatakan bahwa pasangan ini seperti duet Soekarno dan Hatta di zaman kemerdekaan tapi pada kenyataannya hingga kini tidaklah demikian. Bukankah selama satu tahun terakhir mereka berduet, publik sudah sering mendengar adanya ketidakakuran atau perpecahan antara R-1 dengan R-2 tersebut. Sebut saja pada saat hendak menonton tim sepak bola Indonesia yang tampil pada Piala Asia beberapa waktu lalu. Karena Kalla hadir langsung di Stadion Bung Karno pada pertandingan kedua, maka pada pertandingan ketiga SBY juga ikut-ikutan hadir menyaksikan langsung di stadion. Karena aturan protokoler tidak membolehkan satu acara dihadiri Presiden dan wakil presiden maka Kalla tidak bisa menghadiri pertandingan tersebut. Itu hanya satu contoh kecil saja, di mana ada rebutan popularitas yang harus dibangun kedunya untuk investasi di Pilpres 2009. Masih banyak lagi contoh lain yang mengindikasikan pasangan ini tidak akur. Apalagi, selama ini karakter kepemimpinan SBY dan JK sangat berbeda. SBY dikenal sangat lamban, peragu, dan terlalu hati-hati dalam mengambil keputusan. Sedangkan Kalla dikenal dengan gaya kepemimpinan yang cepat, tidak mikir panjang dan tegas. Jika kita mengamati fenomena ini maka kemungkinan pasangan ini untuk berduet lagi pada Pilpres 2009 sangat kecil. Bahkan, pasangan ini kemungkinan akan berduel, karena keduanya memiliki kans yang samasama kuat untuk menang. Siapa yang menang? Kita tunggu saja. hf Muhammad Rofiuddin Jurnalis, tinggal di Semarang |