Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Halaman Depan
Pilpres 2009 dan Kebangkitan Partai Golkar | Cetak |  E-mail

Masih ingat peristiwa penghujatan Partai Golkar pada era tahun 1995-1999? Saat itu Partai berlambang pohon beringin itu memang benar-benar terpuruk. Tapi setelah Ir Akbar Tanjung dipercaya memimpin Golkar, secara perlahan Akbar mampu bangkit dan memperbaiki citra.

Tak gampang memang. Sebab kala itu muncul tokoh-tokoh yang berseberangan dengan Akbar, sehingga muncul citra Golkar Indonesia Timur dan Golkar Indonesia Barat. Puncak perpecahan itu sangat kental jelang pertanggunjawaban presiden Habibie di hadapan anggota dewan. Di luar dugaan memang, laporan pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh anggota dewan. Ponalakan itu memang sangat kental dengan nuasa politik.

Dalam situasi yang carut-marut, Akbar Tanjung kala itu sempat dihadapkan pada dua pilihan, tetap menjadi menteri di kabinet, atau keluar menyelamatkan Partai Golkar yang mendekati kehancuran.

Akbar akhirnya memutuskan diri keluar dari kabinet, Akbar lebih memilih untuk membenahi partai, karana waktu itu statusnya memang sebagai ketua partai Golkar. Kita  memang melihat betapa berat Akbar mempertahankan citra Golkar yang sempat dihujat kalangan muda. Partai ini sempat didemo dimana-mana, sampai akhirnya kalah dalam Pemilu tahun 1999.

Selama memimpin partai Golkar, pembusukan pun mulai dilakukan terhadap putra Sumatera itu. Mulai dari kasus perselisihan tanah sampai dengan kasus Buloggate. Perjalanan Akbar memimpin Partai Golkar, memang menjalani masa yang teramat sulit. Golkar yang selama kepemimpinan Pak Harto sempat tumbuh rindang,  kemdian sempat layu ketika  Pak Harto menyatakan mengundurkan diri sebagai kepala negara.

Sebagai politisi ulung, Akbar memang piawaia dalam menyusun strategi. Golkar boleh kalah dalam Pemilu 1999, tapi dengan semboyan “Golkar Baru” Akbar punya  strategi untuk memenangkan Pemilu berikutnya, nyatanya itu terjadi dan dalam Pemilu 2004, Golkar meraih suara terbanyak  mengalahkan PDI-Perjuangan, yang di tahun 1999 mendominasi perolehan suara dalam Pemilu.

Sayangnya, ketika Golkar menang dalam Pemilu, sistem pemilihan presidan langsung sudah diputuskan. Megawati lah yang memelopori Pilpres langsung, sehingga perolehan suara mayortitas partai dalam Pemilu tak lagi berpengaruh pada pemilihan presiden.

Kemenangan Golkar dalam pemilu 2004, memang tak terlepas dari  kehebatan Akbar. Sayang saat itu Mega dan Akbar yang maju di Pilpres, kalah popular dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang akhirnya terpilih menjadi presiden berkat simpati rakyat.
Kemenangan SBY yang diusung oleh partai Demokrat tersebut,  jujur saja merupakan kesalahan strategi politik yang dibuat oleh kubu PDI-P.

Nasib sial pun menimpa Akbar. Diapun di ditusuk dari belakang oleh temen sendiri dalam pemilihan ketua partai Golkar di Bali. Tapi, kiprah Akbar  di pelataran politik memang bukan hal baru, dia telah memiliki pengalaman cukup panjang. Lebih dari 15 tahun Akbar belajar dari politik semasa era Pak Harto, makanya cukup kalau kita mengatakan Akbar memang telah matang di dunia itu.

Kini keterlibatan Akbar dalam Pilpres 2009, tidaklah teramat mengejutkan bagi kita. Pasalnya, sejak “digunting”  di Bali, Akbar telah mempelajari siapa sesungguhnya kawan dan siapa lawan. Tak banyak memang  yang tahu kiprah Akbar selepas itu, tapi tiba-tiba dia muncul dengan mengusung sejumlah kader massa angkatan muda dan sejumlah tokoh lama yang masih simpati padanya.

Agaknya Akbar memang telah membaca kekuatan, untuk itu  kini dia menyatakan siap maju di Pilpres tahun 2009. Kemunculan Akbar dengan sejumlah tokoh tua seperti Try Sutrisno, Wiranto, Megawati dan  Amin Rais sebenarnya sudah dapat kita tebak kemana arah pertemuan tersebut. Masih ingat Sidang Istimewa (SI) yang  akhirnya melengserkan Gus Dur dari istana, dan mengangkat Megawati menjadi presiden? Ini memang tak terlepas dari peran para tokoh-tokoh tua tersebut. Sebut saja Amin Rais yang waktu itu menjadi ketua MPR dan Akbar yang menjadi Ketua DPR.

Majunya Akbar dalam Pilpres 2009, layak kita sebut sebagai kebangkitan partai Golkar. Sebab sebagian besar kader partai tersebut masih loyal kepada kubu Akbar.  Kalau kita melihat yang terjadi, sepertinya  suara di partai Golkar akan pecah.

Satu sisi berada di pihak Jusuf Kalla, sementara kalangan muda cendrung ke kubu Akbar. Tapi Akbar memang pandai dalam hal menggandeng untuk memperoleh dukungan.  Akbar tentu pintar memilih pasangannya, boleh jadi dari kader PDI-P atau dari PAN dan PKB. (PAB)

 

Diambil dari: http://pab-indonesia.com/web/content/view/3566/60/

 

 
 

A R O P I

" AROPI ( Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia ) merupakan sebuah asosiasi dari ratusan individu yang tertarik dalam memperkenalkan dan mengembangkan riset opini publik di Indonesia. Sebagai sebuah organisasi profesi, AROPI bersifat netral dan tidak berafiliasi dengan organisasi politik apapun.  Anggota AROPI berasal dari berbagai macam latar belakang, seperti dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, mahasiswa, politisi,  birokrat dan sebagainya.  AROPI tidak membeda-bedakan  anggota berdasarkan agama,  suku bangsa, jenis kelamin atau afiliasi politiknya "

Keanggotaan

...AROPI merupakan organisasi profesi yang terbuka untuk siapa saja yang tertarik dengan riset opini publik, Keanggotaan AROPI bersifat individual, tidak mewakili lembaga atau organisasi. Dengan menjadi anggota AROPI, Anda akan menjadi bagian dari sebuah jaringan yang luas di bidang riset opini publik....

Pelatihan

...Menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelatihan terutama yang berkenaan dengan bidang riset...

Beasiswa

...Mensponsori pemberian beasiswa terhadap individu -individu yang memiliki kepedulian tinggi dan prestasi yang mengagumkan dalam dunia riset dan survei...

Survey Opini Publik

....Survei opini publik merupakan instrumen yang penting sekali bagi demokrasi. Salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah perkembangan budaya riset atau surveinya yang sedemikian pesat. Jepang....

Konsultan Ahli

...lembaga survei sekaligus juga merangkap sebagai konsultan pemenangan kandidat,dengan menerapkan prinsip-prinsip metodologi ilmiah dan independensi...
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset