| PT Harus Relevan dengan Kepentingan Publik | | Cetak | |
|
Syahida Inn, UINJKT Online—Guru Besar UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra menilai pengelolaan Perguruan Tinggi (PT) harus memiliki relevansi dengan kepentingan publik. Karenanya dalam pengelolaan dan manajerial PT tidak bisa dikelola secara konvensional. Demikian disampaikan Azyumardi dalam Forum dan Workshop Nasional VII Fakultas Adab Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) se-Indonesia hari ke dua, Selasa (11/12) bertema "Kurikulum Implementatif Membentuk Mahasiswa Berwawasan Kultural dan Global" di Syahida Inn. Menurutnya, kurikulum di PT bukan hanya harus berbasis keilmuan, tapi juga harus memperdalam keterampilan sehingga bisa kompetitif di pasaran. "Perguruan tinggi yang berbasis hanya kademik yang idealis memang peting, tapi jika mengikuti perkembangan zaman idealisme itu tak usah di romantisme lagi," tegasnya Azyumardi menilai, tuntutan peningkatan kualitas agar mampu kompetisi sangat penting terlebih dalam situasi global. "PT selain harus mempunyai lulusan yang kompetitif, juga harus menjalin hubungan dengan elemen lapisan masyarakat untuk pengelolaannya, lebih penting lagi di masa mendatang PT harus mengelola sendiri karena subsidi pemerintah berkurang," Untuk mendukung langkah itu, dinilai Azyumardi, perlu efektifitas kurikulum agar tidak ada mata kuliah yang tidak jelas tapi diusahakan menunjang dan fokus pada satu keilmuan dan keterampilan tertentu. Hadir pembicara lain Dekan Fakultas Adab UIN Bandung Dr Agus Salim M Pd dan Direktur Perguruan Tinggi Departemen Agama Republik Indonesia Prof Dr Abdurahman Mas'ud. Menurut Mas'ud, dalam penyusunan kurikulum harus dihindari pelajaran-pelajaran yang berbeda tapi subtansinya sama. "Banyak pelajaran yang beda tapi subtansinya sama saja itu-itu juga" kata Mas'ud. Selain itu, kurikulum pun harus menginventarisir kebutuhan publik sehingga bisa relevan dengan masyarakat dan bermanfaat untuk kemajuan negara. Kurikulummata kuliah harus disederhanakan, jangan ada mata kuliah yang recehan apalagi matakuliah yang terlampau banyak sehingga kuliah menjadi ajang penyiksaan mahasisiwa. "Intinya kurikulum harus relevan dengan keilmuan dan relevansi dengan dunia kerja yang dibutuhkan public, jadi kalau kurikulum sekarang perlu perubahan tidak apa-apa kita mengobrak-abrik juga," katanya.*(Mus/ed) Diambil dari: http://www.uinjkt.ac.id/index.cfm?module=article.display&recordid=2120&categoryid=9&lang=in |
| Nasional |
| Internasional |
| Berita |
| Admin |
| Lembaga Survei |
| Buku |
| Gallery |
| Video |
| Statistik |
| Penerima Beasiswa |
| Hasil Survei |
| Quick Count |