| Muladi: Duet Yudhoyono-Kalla Paling Ideal | | Cetak | |
|
Bagi Partai Golkar sendiri, katanya, hanya ada dua alternatif yakni, mempertahankan pasangan ini atau mengajukan Jusuf Kalla sebagai calon presiden dengan catatan jika menang di pemilu legislatif. Kepada SP, Kamis (13/12) malam, Muladi mengatakan, sampai saat ini dan nanti di Pemilu Presiden (Pilpres) 2009, pasangan Yudhoyono-Kalla masih yang terbaik. "Maaf ya, tapi ini fakta. Sentimen Jawa dan luar Jawa masih kuat, dan Yudhoyono-Kalla sudah ideal mengakomodasi hal ini," kata mantan menteri pada beberapa posisi di Pemerintahan BJ Habibie itu. Namun andai Partai Golkar menang di pemilu legislatif dan harus mengajukan posisi capres, Muladi dengan tegas menyebutkan, hanya Jusuf Kalla yang layak dimajukan. "Yang lain seperti Sri Sultan, Aburizal Bakrie, Surya Paloh tidak," kata Muladi yang dikenal sebagai tokoh yang berbicara lugas dan tegas. Jika Jusuf Kalla maju sebagai capres, sebagai konsekuensi dari kemenangan Partai Golkar di pemilu legislatif, dan pasangannya di posisi cawapres harus tokoh yang berasal dari Jawa. Ini, katanya, untuk tetap bisa mengakomodasi sentimen Jawa dan luar Jawa yang dibutuhkan negeri ini. Tentang siapa pasangan Jusuf Kalla, Muladi menilai yang paling tepat adalah berasal dari luar Partai Golkar. Muladi tidak menyebut siapa figur yang tepat untuk mendampingi Jusuf Kalla, namun idealnya dari luar Partai Golkar dan orang Jawa. Menurut Wakil Sekjen Partai Golkar, Rully Chairul Azwar, Kamis malam, strategi partainya menghadapi Pilpres 2009 adalah memperkuat posisi tawar dengan meraih kemenangan di Pemilu (legislatif) 2009. Saat ini, katanya, ada dua agenda penting bagi Partai Golkar, yakni menyelesaikan kepemimpinan Yudhoyono-Kalla sampai 2009, dan kedua, Partai Golkar baru akan menetapkan capres/cawapres setelah Pemilu 2009. Dua Alternatif Diakui Rully, sampai saat ini yang ideal adalah kepemimpinan Yudhoyono-Kalla. Untuk itu, menurut Rully, Partai Golkar melihat hanya ada dua alternatif di Pilpres 2009, yakni merebut posisi nomor satu (capres) jika menang di Pemilu 2009 atau tetap mengambil posisi wapres dengan memperkuat posisi di parlemen. Menurut Rully, mengambil posisi nomor dua (wapres) tetap menjadi pilihan meskipun menang di pemilu legislatif. Langkah itu bisa dianggap lebih baik dan realistis kalau dari survei nanti menunjukkan tidak ada figur dari Partai Golkar yang layak dimajukan sebagai capres. "Paradigma sudah berubah, pemenang pemilu tidak identik dengan peluang di Pilpres yang nota bene memilih orang," kata Rully. Dikatakannya, dengan strategi seperti ini, bisa jadi di Pilpres 2009 nanti ada pola seperti di Pilkada DKI Jakarta yang hanya memunculkan dua kandidat. Mengutip banyak hasil survei saat ini, figur kuat di Pilpres 2009 hanya ada dua, yakni Presiden Yudhoyono dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Sementara itu, pengamatan politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhroh, mengatakan, pasangan Yudhoyono-Kalla justru sulit dipertahankan untuk maju di Pilpres 2009. "Saya tidak melihat bisa dipertahankan," kata doktor lulusan Curtin University, Australia itu. Hal ini terjadi karena Siti Zuhroh menilai Jusuf Kalla justru terlihat siap maju sebagai capres. "Apalagi dengan meniadakan konvensi, di samping tentu ada indikasi lain," katanya. [Y-3] Last modified: 14/12/07
Diambil dari: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/12/14/Nasional/nas01.htm |
| Nasional |
| Internasional |
| Berita |
| Admin |
| Lembaga Survei |
| Buku |
| Gallery |
| Video |
| Statistik |
| Penerima Beasiswa |
| Hasil Survei |
| Quick Count |