| Meutia Kritik Tayangan TV Kurang Perhatikan Kepentingan Publik | | Cetak | |
|
KESRA—6 SEPTEMBER: Belakangan ini timbul keresahan di tengah masyarakat menyangkut isi media massa, khususnya televisi; yang cenderung kurang memperhatikan kepentingan publik dan lebih berorientasi pada bisnis. Hal itu dikemukakan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Prof Dr Meutia Hatta Swasono pada acara dialog publiK bertema ‘Tayangan Televisi, Antara Komersialisasi dan Degradasi Moral’ di Jakarta, Kamis (6/9). Acara ini digelar atas kerja sama Kementerian PP, Forum Wartawan Pembedayaan Perempuan dan Anak (Fortapena), dan Televisi Anak Spacetoon. “Hal itu terlihat jelas dalam tayangan televise banyak yang menyuguhkan kekerasan, seks dan pornografi, mistik, mengabaikan moralitas dan sarat dengan bias gender. Sajian media cetak pun tidak jauh berbeda dengan hal-hal yang terdapat di televisi,” katanya. Meneg PP mengakui perkembangan teknologi dan globalisasi informasi yang disertai kebebasan berekspresi telah memberikan dampak positif dan juga negatif. Di satu pihak media massa saat ini merupakan media yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di berbagai lapisan sosial. Namun di pihak lain, kebiasaan untuk merespon dan bersikap kriitis terhadap sajian media massa dapat dikatakan belum tumbuh dan menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. “Sebagian dari mereka masih cenderung pasif dan menerima apa saja yang tersaji di media, bahkan menjadi rujukan perilaku dan nilai. Dengan kata lain saat ini televisi merupakan sarana transformasi nilai yang sangat efektif dan baik di tengah posisi masyarakat yang cenderung lemah,” tambah pakar antropologi dari Universitas Indonesia ini. Dalam kesempatan ini putri Pahlawan Proklamator Bung Hatta ini mengemukakan regulasi media massa harus mampu menjadi rambu-rambu dan melindungi kepentingan masyarakat serta dapat mengimbangi pesatnya perkembangan yang ada. Begitu juga untuk semua stakeholder (insan pers, perfilman dan media media) serta masyarakat diharapkan melaksanakan tanggung jawab sosial mereka. “Artinya, kita semua harus sadar bahwa apa yang disajikan bias menimbulkan kerugian dan dampak negative di masyarakat, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan terhadap pengaruh negative media massa seperti anak, remaja dan perempuan,” katanya. “Kita semua mempunyai kewajiban untuk mendidik bangsa kita dan tak terkecuali, tugas ini juga diemban oleh media. Berkenan dengan itu pertanyaan saya selanjutnya adalah jika pers dan dunia media komunikasi kita mampu menghasilkan karya-karya film, sinetron, VCD yang berkualitas dan insan pers cerdas untuk mengangkat nilai budaya yang baik di negara kita, mengapa pers tidak menggunakannya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa kita?” tambahnya. (broto) Sumber: http://www.menkokesra.go.id/content/view/5026/39/ |
| Nasional |
| Internasional |
| Berita |
| Admin |
| Lembaga Survei |
| Buku |
| Gallery |
| Video |
| Statistik |
| Penerima Beasiswa |
| Hasil Survei |
| Quick Count |