Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Halaman Depan
Butuh Kepastian Kendaraan Politik | Cetak |  E-mail

Popularitas Akbar Tandjung sebagai cawapres 2009 masih rendah. Itu tampak dari hasil survei terbaru Indo Barometer yang dirilis Kamis (13/12). Dalam hasil survei itu, nama Akbar tidak terjaring masuk delapan besar.

Bahkan, melalui pertanyaan tertutup dengan 15 alternatif, Akbar hanya berada di urutan keempat dengan 6,4 persen. Dia tertinggal jauh dibandingkan dengan Jusuf Kalla (JK) yang memperoleh 25,3 persen.

"Akbar masih kalah dari JK karena publik menilai Akbar belum memperlihatkan kepastian akan menggunakan kendaraan politik apa pada 2009," kata analis politik dari CSIS Indra Jaya Piliang kemarin (14/12).

Menurut Indra, penjelasan itu lebih masuk akal. Sebab, pengenalan publik terhadap sosok Akbar cukup tinggi, yakni 87,9 persen dengan tingkat kesukaan mencapai 62,9 persen. "Bedanya, JK sudah punya kendaraan yang pasti, yakni Golkar," tandasnya.

Indra bahkan menyampaikan, bila Golkar sudah memutuskan untuk mencalonkan JK sebagai presiden, elektibilitas JK pasti naik. "Saat ini, mengapa bursa capres hanya didominasi SBY dan Mega? Ya karena dua orang itu punya partai yang jelas-jelas mendukung," ujarnya.

Dalam analisis Indra, publik cukup cerdas dalam menilai. Ada tidaknya kendaraan politik yang akan mengusung calon-calon terkait, lanjut dia, menjadi salah satu parameter penilaian itu. "Maka, agak sulit juga kalau hanya mengandalkan Barindo," katanya.

Indra menyebut, Akbar harus mampu meyakinkan publik bahwa ada parpol yang siap mem-back up dirinya. Lebih baik lagi jika parpol itu adalah Golkar. Meskipun Akbar pernah menyatakan tidak berminat lagi untuk bersaing memperebutkan kursi Ketum Golkar yang kini masih dijabat JK, lanjut dia, bukan tidak mungkin Akbar naik sebagai ketua Dewan Pembina Partai Golkar. "Intinya, Akbar harus punya jaminan partai," tegasnya.

Tapi, benarkah Akbar masih punya prospek? "Bagaimanapun, publik tetap melihat Akbar sebagai sosok negarawan yang sudah melintasi tahap-tahap krusial di dunia politik," jawabnya.

"Tapi, itu juga bergantung siapa pasangan capres yang akan dipadukan dengan Akbar," imbuhnya. (pri)

Diambil dari: http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=317175

 
 

A R O P I

" AROPI ( Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia ) merupakan sebuah asosiasi dari ratusan individu yang tertarik dalam memperkenalkan dan mengembangkan riset opini publik di Indonesia. Sebagai sebuah organisasi profesi, AROPI bersifat netral dan tidak berafiliasi dengan organisasi politik apapun.  Anggota AROPI berasal dari berbagai macam latar belakang, seperti dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, mahasiswa, politisi,  birokrat dan sebagainya.  AROPI tidak membeda-bedakan  anggota berdasarkan agama,  suku bangsa, jenis kelamin atau afiliasi politiknya "

Keanggotaan

...AROPI merupakan organisasi profesi yang terbuka untuk siapa saja yang tertarik dengan riset opini publik, Keanggotaan AROPI bersifat individual, tidak mewakili lembaga atau organisasi. Dengan menjadi anggota AROPI, Anda akan menjadi bagian dari sebuah jaringan yang luas di bidang riset opini publik....

Pelatihan

...Menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelatihan terutama yang berkenaan dengan bidang riset...

Beasiswa

...Mensponsori pemberian beasiswa terhadap individu -individu yang memiliki kepedulian tinggi dan prestasi yang mengagumkan dalam dunia riset dan survei...

Survey Opini Publik

....Survei opini publik merupakan instrumen yang penting sekali bagi demokrasi. Salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah perkembangan budaya riset atau surveinya yang sedemikian pesat. Jepang....

Konsultan Ahli

...lembaga survei sekaligus juga merangkap sebagai konsultan pemenangan kandidat,dengan menerapkan prinsip-prinsip metodologi ilmiah dan independensi...
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset
  • Lembaga Survei dan Riset