| Busway untuk Kepentingan Publik | | Cetak | |
|
Masalah kemacetan lalu lintas di Jakarta harus menjadi perhatian semua pihak. Jumlah warga Jakarta yang mencapai 12 juta jiwa menjadi pokok persoalan kemacetan di jalan-jalan Ibu Kota. Jutaan orang berada di jalan pada saat bersamaan, pasti menimbulkan kemacetan lalu lintas. Karena itu untuk mengatasi kemacetan, Pemprov harus melanjutkan pembangunan busway yang merupakan proyek transportasi publik untuk kepentingan rakyat. Namun jumlah armada bus ditambah dan dikombinasikan dengan bus gandeng sehingga tidak terjadi penumpukan calon penumpang. Penambahan ini terutama untuk jalur-jalur yang padat penumpang. PT TransJakarta, operator pengelola busway, agar mampu menambah jumlah armada sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, pemerintah pusat membebaskan bea masuk bus untuk busway. Bea masuk yang selama ini dikenakan sangat memberatkan operator. Padahal busway untuk kepentingan rakyat. Seharusnya bus khusus untuk busway dibebaskan bea masuknya. Pemprov DKI sebaiknya membuat jadwal jam sekolah dan jam kerja yang berbeda-beda. Soalnya, selama ini kemacetan terjadi saat pagi dan sore hari. Untuk itu, agar tak menimbulkan kemacetan, setidaknya dibutuhkan empat jadwal masuk kerja atau sekolah. Pada pukul 6.30 WIB (untuk anak-anak sekolah), pukul 7.30 WIB (untuk pegawai negeri), pukul 8.30 WIB (untuk pegawai swasta) dan pukul 9.30 WIB (untuk karyawan yang bekerja di mal dan pertokoan). Dengan selisih waktu satu jam itu, kata Bursah, otomatis keberangkatan mereka ke tempat kerja dan sekolah akan bergelombang. ''Tidak akan terjadi penumpukan orang di jalan,'' ujar Bursah. Khusus untuk warga Jakarta kelas menengah ke atas, yang tetap enggan naik bus umum, mereka sebaiknya menggunakan taksi sebagai sarana transportasi. Bursah Zarnubi Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=313162&kat_id=286 |
| Nasional |
| Internasional |
| Berita |
| Admin |
| Lembaga Survei |
| Buku |
| Gallery |
| Video |
| Statistik |
| Penerima Beasiswa |
| Hasil Survei |
| Quick Count |